Mie merupakan salah satu makanan yang sangat digemari masyarakat Indonesia. Namun, kebutuhan akan produk pangan yang lebih sehat mendorong munculnya inovasi mie non-gluten sebagai alternatif, terutama bagi konsumen dengan intoleransi gluten atau yang ingin menjalani pola makan lebih sehat 🍜 Salah satu inovasi yang menarik adalah pembuatan mie basah non-gluten dengan memanfaatkan kombinasi tepung kentang dan tepung tapioka, serta penambahan bubuk daun kersen (Muntingia calabura). Daun kersen sendiri dikenal memiliki kandungan antioksidan yang cukup tinggi, sehingga berpotensi meningkatkan nilai fungsional produk. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh perbandingan kedua jenis tepung serta penambahan bubuk daun kersen terhadap karakteristik kimia (seperti kadar air, abu, protein, lemak, dan karbohidrat) serta aktivitas antioksidan pada mie yang dihasilkan. Metode penelitian menggunakan rancangan percobaan dengan dua faktor utama, sehingga dihasilkan beberapa variasi sampel untuk dianalisis lebih lanjut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi rasio tepung kentang dan tapioka berpengaruh terhadap beberapa parameter penting. Peningkatan penggunaan tepung kentang cenderung meningkatkan kadar air dan protein, serta menurunkan kadar karbohidrat. Sementara itu, kadar abu dan lemak tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Dari sisi fungsional, mie non-gluten yang dihasilkan memiliki aktivitas antioksidan berkisar antara 36,2% hingga 52,5%. Menariknya, semakin tinggi konsentrasi bubuk daun kersen yang ditambahkan, maka aktivitas antioksidan juga semakin meningkat. Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi bahan lokal seperti kentang, tapioka, dan daun kersen tidak hanya dapat menghasilkan produk mie alternatif bebas gluten, tetapi juga berpotensi sebagai pangan fungsional yang memberikan manfaat kesehatan. Ke depannya, penelitian lanjutan masih diperlukan, misalnya untuk mengkaji potensi efek kesehatan seperti antidiabetes atau penurun kolesterol melalui uji in vivo. Selain itu, eksplorasi teknologi seperti nanoenkapsulasi juga dapat dilakukan untuk meningkatkan penyerapan senyawa bioaktif dalam tubuh. Sumber: https://journal.trunojoyo.ac.id/rekayasa/article/view/27254
Alpukat menjadi salah satu buah favorit masyarakat karena rasanya yang lezat dan kandungan gizinya yang tinggi. Di kawasan Pasar Wisata Tawangmangu, alpukat juga menjadi komoditas yang banyak diminati, baik oleh wisatawan maupun masyarakat lokal. Tapi, sebenarnya apa sih yang paling dipertimbangkan konsumen saat membeli alpukat? 🤔 Penelitian ini dilakukan untuk menggali preferensi konsumen dalam memilih buah alpukat, khususnya faktor-faktor apa saja yang paling memengaruhi keputusan pembelian. Metode yang digunakan adalah survei dengan pendekatan deskriptif analitik, melibatkan 60 responden yang dipilih secara purposive (sesuai kriteria tertentu). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pembeli alpukat didominasi oleh perempuan dengan rentang usia produktif (17-64 tahun). Sebagian besar memiliki latar belakang pendidikan S1/D4 dan bekerja sebagai karyawan swasta dengan tingkat pendapatan menengah. Menariknya, konsumen tidak hanya berasal dari Karanganyar saja, tetapi juga dari berbagai daerah lain, meskipun pembeli lokal tetap mendominasi. Dari sisi preferensi, faktor rasa menjadi pertimbangan utama dalam membeli alpukat. Konsumen cenderung memilih alpukat dengan cita rasa yang enak dibandingkan faktor lainnya. Setelah rasa, atribut lain yang juga diperhatikan secara berurutan adalah tingkat kematangan buah, jenis alpukat, harga, warna kulit, dan ukuran buah. Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas internal produk, seperti rasa dan kematangan, memiliki peran yang lebih besar dibandingkan tampilan fisik semata. Hal ini bisa menjadi insight penting bagi pedagang maupun pelaku agribisnis untuk lebih fokus pada kualitas produk yang ditawarkan. Sumber: https://jepa.ub.ac.id/index.php/jepa/article/view/2861
Kampung Gadukan di Surabaya dikenal sebagai salah satu sentra produksi tas fashion wanita di Jawa Timur. Produk-produk dari UMKM di kawasan ini punya potensi besar, baik di pasar lokal maupun ekspor. Namun, persaingan yang semakin ketat, terutama dengan produk impor seperti dari China menjadi tantangan serius. Produk impor seringkali lebih diminati karena variasi desain yang menarik dan harga yang relatif terjangkau. Hal ini membuat pelaku UMKM perlu berinovasi, khususnya dalam hal desain produk, agar tetap bisa bersaing di pasar. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah melalui diversifikasi produk, yaitu mengembangkan variasi desain yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan selera konsumen. Dalam penelitian ini, dilakukan pendekatan gap analysis untuk mengidentifikasi perbedaan antara harapan konsumen dan kondisi produk yang ada saat ini. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat sekitar 20 atribut produk yang dianggap penting oleh konsumen. Atribut ini kemudian dikaji berdasarkan delapan dimensi pengembangan produk, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih jelas terkait kebutuhan pasar. Dari proses perancangan desain, ditemukan empat faktor utama yang menjadi prioritas dalam meningkatkan kualitas produk. Faktor tersebut meliputi kualitas bahan baku dan bahan pendukung, desain yang elegan, pemilihan warna yang menarik, serta kualitas proses produksi 🏭 Keempat aspek ini menjadi kunci penting dalam menghasilkan produk tas yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki daya tahan dan nilai jual yang tinggi. Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut, diharapkan produk UMKM dari Kampung Gadukan mampu memenuhi ekspektasi konsumen sekaligus meningkatkan daya saing di pasar yang lebih luas. ✨ Jadi, inovasi desain bukan cuma soal tampilan, tapi juga strategi penting untuk bertahan dan berkembang di tengah persaingan global! Sumber: https://journals.ums.ac.id/jiti/article/view/2596
Di tengah meningkatnya kesadaran akan produk ramah lingkungan, sabun alami mulai jadi pilihan menarik dibanding sabun konvensional yang sering mengandung bahan kimia keras. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah sabun batang berbahan eco-enzyme dari kulit nanas yang dipadukan dengan ekstrak bunga telang. Eco-enzyme sendiri merupakan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah yang memiliki banyak manfaat, mulai dari sifat antibakteri hingga potensi sebagai bahan pembersih alami. Nah, ketika dikombinasikan dengan bunga telang yang kaya antioksidan, produk sabun ini diharapkan tidak hanya aman untuk kulit, tapi juga lebih eco-friendly. Dalam penelitian ini, proses pembuatan sabun diawali dengan fermentasi eco-enzyme selama 90 hari. Setelah itu, sabun yang dihasilkan diuji dari berbagai aspek, baik fisik maupun kimia. Parameter yang dianalisis meliputi pH, kadar air, asam lemak bebas, hingga angka lempeng total (ALT) untuk melihat kualitas mikrobiologinya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sabun memiliki pH berkisar antara 8,72–8,83, yang masih dalam rentang aman untuk sabun batang. Kadar air berada di kisaran 9,50–10,42%, sementara kadar asam lemak bebas berkisar antara 6,52–12,99%. Secara keseluruhan, nilai-nilai tersebut telah memenuhi standar mutu yang ditetapkan, sehingga produk ini tergolong layak digunakan. Dari sisi organoleptik (uji kesukaan), hasilnya juga cukup menarik! Sebanyak 40% panelis menyatakan menyukai aroma sabun, bahkan 36,7% di antaranya sangat menyukainya. Ini menunjukkan bahwa selain aman dan ramah lingkungan, sabun ini juga memiliki daya tarik dari segi sensori. Secara keseluruhan, sabun berbasis eco-enzyme kulit nanas dan ekstrak bunga telang ini punya potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut, terutama dalam industri kosmetik berbasis bahan alami 🌱. Selain membantu mengurangi limbah organik, inovasi ini juga membuka peluang produk perawatan tubuh yang lebih sehat dan berkelanjutan. Sumber: https://jurnal-id.com/index.php/jupin/article/view/1332
Produk telur ayam ras merupakan salah satu komoditas unggulan dalam sektor peternakan yang memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Di Kabupaten Sumba Tengah, penjualan telur ayam ras yang dikelola oleh UPTD Pembibitan dan Agribisnis Ternak menjadi bagian strategis dalam mendukung distribusi dan ketersediaan produk peternakan. Namun, keberhasilan penjualan tidak hanya ditentukan oleh aspek produksi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh bagaimana masyarakat memandang kualitas dan layanan yang diberikan. Persepsi konsumen menjadi faktor kunci yang dapat membentuk citra produk sekaligus memengaruhi keputusan pembelian. Melalui pendekatan analisis sentimen, penelitian ini menggali tanggapan dan opini masyarakat terhadap produk telur ayam ras yang dipasarkan. Hasil analisis menunjukkan bahwa sentimen publik memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap performa penjualan. Respon positif dari konsumen cenderung mendorong peningkatan penjualan, sedangkan tanggapan negatif dapat berdampak pada penurunan minat beli. Temuan ini menegaskan pentingnya menjaga kualitas produk sekaligus meningkatkan pelayanan kepada konsumen. Upaya seperti menjaga kesegaran telur, memastikan distribusi yang baik, serta memberikan pelayanan yang responsif dapat membantu membangun persepsi positif di masyarakat. Dengan memahami pola sentimen konsumen, pengelola usaha peternakan dapat menyusun strategi pemasaran yang lebih tepat sasaran. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan daya saing produk, tetapi juga mendukung keberlanjutan usaha agribisnis di daerah. Sumber: https://www.ojs.unkriswina.ac.id/index.php/inovatif/article/view/980