Kenyamanan ruang kelas menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung proses belajar mahasiswa. Salah satu elemen yang sering digunakan dalam aktivitas perkuliahan adalah kursi kuliah. Namun, pada praktiknya, masih banyak mahasiswa yang merasakan ketidaknyamanan saat duduk dalam waktu lama, khususnya di kelas Ergonomi. Keluhan yang muncul umumnya berkaitan dengan bagian punggung, pinggang, dan paha, yang mengindikasikan bahwa desain kursi yang digunakan belum sepenuhnya sesuai dengan karakteristik tubuh penggunanya. Berdasarkan pengamatan langsung, wawancara, serta pengisian kuesioner oleh mahasiswa, diketahui adanya ketidaksesuaian antara dimensi kursi kuliah dengan data antropometri mahasiswa. Kondisi ini mendorong perlunya evaluasi desain kursi agar lebih ergonomis dan mampu menunjang aktivitas belajar secara optimal. Pendekatan pengukuran antropometri dilakukan pada beberapa dimensi tubuh yang berkaitan langsung dengan desain kursi, kemudian dianalisis menggunakan rentang persentil untuk mengakomodasi variasi ukuran tubuh mahasiswa. Hasil pengembangan desain menunjukkan bahwa penyesuaian dimensi kursi serta penambahan material busa pada sandaran dan alas duduk dapat meningkatkan kenyamanan dan aspek ergonomi. Desain kursi yang lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna ini diharapkan tidak hanya mengurangi keluhan fisik mahasiswa, tetapi juga memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas fasilitas pembelajaran di lingkungan perguruan tinggi. Sumber: Utami, N. A., Prasmestari, D., & Industri, T. (2026). Desain Ulang Kursi Mahasiswa Di Kelas Ergonomi Teknik Industri Universitas X. 10(2), 1–7.
Agribisnis perikanan memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan dan perekonomian nasional, namun masih dihadapkan pada berbagai kendala seperti panjangnya rantai distribusi, fluktuasi harga, serta keterbatasan akses pasar, terutama ke pasar global. Pemanfaatan pemasaran digital melalui media sosial, platform e-commerce, dan teknologi informasi menjadi pendekatan inovatif yang mampu menjawab tantangan tersebut. Berbagai kajian menunjukkan bahwa pemasaran digital dapat meningkatkan visibilitas produk perikanan, memperluas jangkauan pasar, serta menciptakan interaksi langsung antara produsen dan konsumen tanpa perantara yang panjang. Penerapan pemasaran digital juga mendorong efisiensi dan keberlanjutan usaha agribisnis perikanan. Meski demikian, implementasinya masih menghadapi hambatan seperti rendahnya literasi digital di kalangan nelayan dan pelaku UMKM perikanan, keterbatasan infrastruktur digital di wilayah pesisir, serta persaingan harga yang ketat di platform daring. Oleh karena itu, pemasaran digital tidak hanya dipandang sebagai sarana promosi, tetapi juga sebagai instrumen transformasi sistem agribisnis perikanan menuju model usaha yang lebih inklusif, efisien, dan berdaya saing tinggi. Peran strategis pemasaran digital dalam agribisnis perikanan meliputi: Memperluas akses pasar hingga tingkat nasional dan global Meningkatkan efisiensi distribusi dan transparansi harga Memperkuat branding dan nilai tambah produk perikanan Mendorong inovasi usaha, seperti aplikasi penjualan ikan segar berbasis digital Mendukung keberlanjutan usaha melalui rantai pasok yang lebih pendek Sumber: Sudirman, A. A. (2026). KAJIAN SISTEMATIS PERAN PEMASARAN DIGITAL DALAM MENDUKUNG DAYA SAING Studi Agribisnis Perikanan , Program Vokasi UNG Volume 1 Issue 1 Volume 1 Issue 1. 1(1), 8–16.
Pertumbuhan populasi dunia yang terus meningkat, disertai dampak perubahan iklim dan penurunan kualitas lahan pertanian, menimbulkan tantangan serius bagi ketahanan pangan global. Sistem peternakan konvensional tidak hanya membutuhkan sumber daya lahan dan air yang besar, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca. Kondisi ini mendorong perlunya pengembangan teknologi pangan yang inovatif dan berkelanjutan, salah satunya melalui teknologi daging kultur sebagai alternatif produksi protein hewani. Teknologi daging kultur menawarkan potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan global dengan cara memproduksi daging tanpa melalui proses pemeliharaan hewan secara konvensional. Berbagai kajian menunjukkan bahwa penerapan teknologi ini mampu menekan penggunaan lahan dan emisi karbon secara signifikan dibandingkan sistem peternakan tradisional, sekaligus mengurangi risiko penularan penyakit zoonosis dan isu kesejahteraan hewan. Dari sisi rekayasa pangan, teknologi ini membuka peluang pengembangan sistem produksi protein yang lebih efisien, terkontrol, dan ramah lingkungan. Meskipun memiliki prospek yang menjanjikan, pengembangan daging kultur masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti tingginya biaya produksi, ketergantungan pada media kultur tertentu, serta isu sertifikasi halal dan penerimaan sosial masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan riset berkelanjutan dalam pengembangan media kultur bebas serum, penguatan regulasi, serta peningkatan literasi publik. Kolaborasi antara peneliti, pemerintah, industri, dan otoritas keagamaan menjadi kunci untuk memastikan bahwa teknologi daging kultur dapat berkembang sebagai solusi pangan masa depan yang aman, etis, berkelanjutan, dan selaras dengan nilai sosial budaya. Sumber: Aslamiah, P. F., Elfa, R., Maulina, S., Maulani, Y. P., & Cahyanto, T. (2025). Peran Teknologi Kultur Daging dalam Percepatan Ketahanan Pangan Global gagasan-gagasan baru yang memiliki potensi untuk menjawab tantangan tersebut , salah sampel sel melalui bioteknologi modern ( Laestadius & Caldwell , 2015 ). akses baik secara fisik maupun ekonomi , untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota. November.
Pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) merupakan tantangan penting bagi industri kimia karena berkaitan langsung dengan dampak lingkungan dan kesehatan masyarakat. Berbagai kajian menunjukkan bahwa perusahaan kimia telah berupaya menerapkan pengelolaan limbah B3 sesuai dengan regulasi pemerintah serta memanfaatkan teknologi yang lebih ramah lingkungan. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen industri dalam menjaga keberlanjutan proses produksi dan meminimalkan risiko pencemaran. Selain penerapan aspek teknis, program Corporate Social Responsibility (CSR) berperan strategis dalam mendukung pengelolaan limbah B3, terutama melalui kegiatan edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Program CSR yang berfokus pada peningkatan kesadaran masyarakat terbukti mampu membantu masyarakat memahami potensi bahaya limbah B3 serta pentingnya pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab. Meski demikian, masih terdapat tantangan seperti keterbatasan pemahaman masyarakat dan kemungkinan terjadinya insiden pencemaran yang memerlukan perhatian lebih lanjut. Keberhasilan pengelolaan limbah B3 tidak terlepas dari kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat. Persepsi publik terhadap industri kimia sangat dipengaruhi oleh cara perusahaan mengelola limbah yang dihasilkan. Oleh karena itu, pelibatan masyarakat secara aktif melalui program CSR serta dukungan kebijakan dari pemerintah menjadi kunci untuk menciptakan pengelolaan limbah B3 yang lebih efektif, berkelanjutan, dan berdampak positif bagi lingkungan serta kesejahteraan masyarakat. sumber: Yolanda, V., Studi, P., Syariah, A., Ekonomi, F., Bisnis, D., Negeri, I., Intan, R., Sisdianto, E., Studi, P., Syariah, A., Ekonomi, F., Bisnis, D., Negeri, I., & Intan, R. (2025). PENGELOLAAN LIMBAH BERBAHAYA DENGAN CSR : STUDI Vanes Yolanda. 2(1), 245–256.
Transformasi digital yang berlangsung pesat telah mendorong perubahan dalam struktur pasar tenaga kerja, salah satunya melalui munculnya ekonomi gig. Dalam sistem ini, gig worker berperan sebagai tenaga kerja yang menjalankan pekerjaan berbasis tugas atau proyek tertentu dengan tingkat fleksibilitas yang tinggi. Fenomena ekonomi gig semakin relevan dalam konteks perusahaan jasa yang beroperasi di lingkungan bisnis yang dinamis dan kompetitif. Ketidakpastian dan variasi permintaan pasar menuntut perusahaan untuk memiliki kemampuan adaptasi yang cepat. Fleksibilitas tenaga kerja menjadi salah satu strategi penting dalam menjaga kinerja perusahaan. Keberadaan gig worker memungkinkan perusahaan menyesuaikan kebutuhan tenaga kerja secara lebih responsif, baik dari segi waktu, keahlian, maupun biaya operasional. Di sisi lain, ekonomi gig memberikan berbagai peluang bagi tenaga kerja, seperti fleksibilitas jam kerja, kebebasan memilih jenis pekerjaan sesuai kompetensi, serta akses terhadap peluang kerja lintas wilayah. Hubungan kerja yang fleksibel ini berpotensi menciptakan manfaat timbal balik antara perusahaan dan gig worker. Dalam konteks kinerja perusahaan jasa, fleksibilitas tenaga kerja berkontribusi pada kemampuan perusahaan dalam merespons perubahan proses bisnis dan rantai pasok secara cepat dan efektif. Pemanfaatan gig worker yang profesional dan adaptif diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional serta mendukung peningkatan kinerja perusahaan secara berkelanjutan. sumber: Hartono, M., & Tarigas, N. (2025). KONSEP FLEKSIBILITAS DALAM GIG WORKER DAN PENGARUHNYA PADA KINERJA PERUSAHAAN JASA : LITERATURE REVIEW Abstrak. 20(1).