Sherbet merupakan produk pangan beku yang menyegarkan dan rendah lemak. Mentimun dikenal kaya akan vitamin C dan senyawa flavonoid, sementara sari pandan wangi berperan sebagai sumber aroma dan warna alami. Penelitian ini mengkaji karakteristik sensori sherbet mentimun dengan variasi konsentrasi sari pandan wangi dan jenis pemanis alami sebagai upaya pengembangan produk pangan berbasis bahan lokal. Uji organoleptik dilakukan pada 30 panelis dengan sembilan perlakuan, meliputi penilaian aroma, tekstur, rasa, dan warna. Hasil analisis menunjukkan bahwa variasi konsentrasi sari pandan wangi dan jenis pemanis tidak memberikan perbedaan nyata terhadap aroma, tekstur, dan rasa sherbet mentimun. Namun demikian, perbedaan signifikan ditemukan pada parameter warna, di mana peningkatan konsentrasi sari pandan wangi menghasilkan warna hijau yang semakin intens. Secara keseluruhan, kombinasi mentimun, sari pandan wangi, dan pemanis alami mampu menghasilkan sherbet dengan cita rasa yang harmonis dan tampilan menarik. Inovasi ini membuka peluang diversifikasi produk pangan beku berbasis bahan alami sebagai alternatif kudapan sehat, rendah lemak, serta sejalan dengan tren konsumsi masyarakat yang semakin mengarah pada pangan fungsional dan ramah kesehatan. Sumber : Danya Mozza Elshiva, Syarifa Ramadhani Nurbaya*, Lukman Hudi AM. Sensory Evaluation of Cucumber Sherbet ( Cucumis sativus L .) Based on Variation of Fragrant Pandan ( Pandanus amaryllifolius ). 2025;10(1):53–61.
Limbah cair yang dihasilkan industri tahu memiliki kandungan bahan organik tinggi sehingga berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Salah satu pendekatan yang umum digunakan dalam pengolahan limbah cair adalah proses koagulasi–flokulasi, namun ketergantungan pada koagulan kimia mendorong perlunya alternatif yang lebih ramah lingkungan. Biji alpukat, yang mengandung senyawa tanin, dikaji sebagai koagulan alami melalui proses ekstraksi maserasi menggunakan etanol 70% dengan variasi waktu perendaman. Hasil kajian menunjukkan bahwa waktu maserasi berpengaruh terhadap kandungan tanin, dengan kondisi terbaik diperoleh pada maserasi terlama. Aplikasi ekstrak biji alpukat sebagai koagulan alami memberikan dampak positif terhadap kualitas limbah cair tahu, antara lain: penurunan nilai COD dan TSS yang signifikan pada penambahan volume koagulan tertentu, penurunan kekeruhan limbah secara efektif pada dosis koagulan yang lebih rendah, serta perubahan pH limbah ke arah yang lebih netral meskipun masih memerlukan penyesuaian lebih lanjut. Temuan ini menunjukkan bahwa biji alpukat memiliki potensi besar sebagai koagulan alami yang dapat mendukung pengolahan limbah cair industri tahu secara lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Sumber: Robiah, Akbar Ismi Aziz Pramito, R. J. (2026). Jurnal Teknologi Kimia Mineral. November 2025, 1–7.
Kenyamanan ruang kelas menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung proses belajar mahasiswa. Salah satu elemen yang sering digunakan dalam aktivitas perkuliahan adalah kursi kuliah. Namun, pada praktiknya, masih banyak mahasiswa yang merasakan ketidaknyamanan saat duduk dalam waktu lama, khususnya di kelas Ergonomi. Keluhan yang muncul umumnya berkaitan dengan bagian punggung, pinggang, dan paha, yang mengindikasikan bahwa desain kursi yang digunakan belum sepenuhnya sesuai dengan karakteristik tubuh penggunanya. Berdasarkan pengamatan langsung, wawancara, serta pengisian kuesioner oleh mahasiswa, diketahui adanya ketidaksesuaian antara dimensi kursi kuliah dengan data antropometri mahasiswa. Kondisi ini mendorong perlunya evaluasi desain kursi agar lebih ergonomis dan mampu menunjang aktivitas belajar secara optimal. Pendekatan pengukuran antropometri dilakukan pada beberapa dimensi tubuh yang berkaitan langsung dengan desain kursi, kemudian dianalisis menggunakan rentang persentil untuk mengakomodasi variasi ukuran tubuh mahasiswa. Hasil pengembangan desain menunjukkan bahwa penyesuaian dimensi kursi serta penambahan material busa pada sandaran dan alas duduk dapat meningkatkan kenyamanan dan aspek ergonomi. Desain kursi yang lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna ini diharapkan tidak hanya mengurangi keluhan fisik mahasiswa, tetapi juga memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas fasilitas pembelajaran di lingkungan perguruan tinggi. Sumber: Utami, N. A., Prasmestari, D., & Industri, T. (2026). Desain Ulang Kursi Mahasiswa Di Kelas Ergonomi Teknik Industri Universitas X. 10(2), 1–7.
Agribisnis perikanan memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan dan perekonomian nasional, namun masih dihadapkan pada berbagai kendala seperti panjangnya rantai distribusi, fluktuasi harga, serta keterbatasan akses pasar, terutama ke pasar global. Pemanfaatan pemasaran digital melalui media sosial, platform e-commerce, dan teknologi informasi menjadi pendekatan inovatif yang mampu menjawab tantangan tersebut. Berbagai kajian menunjukkan bahwa pemasaran digital dapat meningkatkan visibilitas produk perikanan, memperluas jangkauan pasar, serta menciptakan interaksi langsung antara produsen dan konsumen tanpa perantara yang panjang. Penerapan pemasaran digital juga mendorong efisiensi dan keberlanjutan usaha agribisnis perikanan. Meski demikian, implementasinya masih menghadapi hambatan seperti rendahnya literasi digital di kalangan nelayan dan pelaku UMKM perikanan, keterbatasan infrastruktur digital di wilayah pesisir, serta persaingan harga yang ketat di platform daring. Oleh karena itu, pemasaran digital tidak hanya dipandang sebagai sarana promosi, tetapi juga sebagai instrumen transformasi sistem agribisnis perikanan menuju model usaha yang lebih inklusif, efisien, dan berdaya saing tinggi. Peran strategis pemasaran digital dalam agribisnis perikanan meliputi: Memperluas akses pasar hingga tingkat nasional dan global Meningkatkan efisiensi distribusi dan transparansi harga Memperkuat branding dan nilai tambah produk perikanan Mendorong inovasi usaha, seperti aplikasi penjualan ikan segar berbasis digital Mendukung keberlanjutan usaha melalui rantai pasok yang lebih pendek Sumber: Sudirman, A. A. (2026). KAJIAN SISTEMATIS PERAN PEMASARAN DIGITAL DALAM MENDUKUNG DAYA SAING Studi Agribisnis Perikanan , Program Vokasi UNG Volume 1 Issue 1 Volume 1 Issue 1. 1(1), 8–16.
Pertumbuhan populasi dunia yang terus meningkat, disertai dampak perubahan iklim dan penurunan kualitas lahan pertanian, menimbulkan tantangan serius bagi ketahanan pangan global. Sistem peternakan konvensional tidak hanya membutuhkan sumber daya lahan dan air yang besar, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca. Kondisi ini mendorong perlunya pengembangan teknologi pangan yang inovatif dan berkelanjutan, salah satunya melalui teknologi daging kultur sebagai alternatif produksi protein hewani. Teknologi daging kultur menawarkan potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan global dengan cara memproduksi daging tanpa melalui proses pemeliharaan hewan secara konvensional. Berbagai kajian menunjukkan bahwa penerapan teknologi ini mampu menekan penggunaan lahan dan emisi karbon secara signifikan dibandingkan sistem peternakan tradisional, sekaligus mengurangi risiko penularan penyakit zoonosis dan isu kesejahteraan hewan. Dari sisi rekayasa pangan, teknologi ini membuka peluang pengembangan sistem produksi protein yang lebih efisien, terkontrol, dan ramah lingkungan. Meskipun memiliki prospek yang menjanjikan, pengembangan daging kultur masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti tingginya biaya produksi, ketergantungan pada media kultur tertentu, serta isu sertifikasi halal dan penerimaan sosial masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan riset berkelanjutan dalam pengembangan media kultur bebas serum, penguatan regulasi, serta peningkatan literasi publik. Kolaborasi antara peneliti, pemerintah, industri, dan otoritas keagamaan menjadi kunci untuk memastikan bahwa teknologi daging kultur dapat berkembang sebagai solusi pangan masa depan yang aman, etis, berkelanjutan, dan selaras dengan nilai sosial budaya. Sumber: Aslamiah, P. F., Elfa, R., Maulina, S., Maulani, Y. P., & Cahyanto, T. (2025). Peran Teknologi Kultur Daging dalam Percepatan Ketahanan Pangan Global gagasan-gagasan baru yang memiliki potensi untuk menjawab tantangan tersebut , salah sampel sel melalui bioteknologi modern ( Laestadius & Caldwell , 2015 ). akses baik secara fisik maupun ekonomi , untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota. November.